Aku Membesarkan Anak Perempuanku dengan Kelimpahan
Beberapa bulan lalu, aku ngobrol sama orang tua lain waktu jemput anak di sekolah. Topiknya masuk ke soal enrichment, percakapan khas Singapura. Matematika, Bahasa Inggris, Mandarin. Aku bilang anak-anakku ikut public speaking, tari Mandarin, dan piano.
Responnya sopan. Tapi itu cuma angkat bahu.
Aku nggak maksa. Tapi pulang ke rumah aku terus mikirinnya, karena aku sadar aku belum pernah beneran jelasin kenapa kami buat pilihan itu. Bukan dengan cara yang masuk akal buat orang yang lagi optimasi untuk ujian akhir tahun.
Bukan berarti kami nggak kerjain matematika dan Bahasa Inggris. Kami juga lakuin itu. Tapi kami juga lagi ngerjain hal yang lain. Dan ini adalah usahaku untuk jelasin apa itu.
Tahun lalu aku baca The Anxious Generation karya Jonathan Haidt. Kalau kamu orang tua dengan anak kecil dan belum bacanya, aku taruh itu di urutan teratas daftar bacaan.
Argumen utama Haidt adalah bahwa smartphone dan media sosial, yang mulai dikenalkan ke anak-anak sekitar tahun 2012, nyebabin krisis kesehatan mental yang terukur pada remaja. Datanya nggak enak dibaca. Tapi bagian yang bikin aku berhenti sejenak bukan tren keseluruhannya. Melainkan asimetrinya antara anak laki-laki dan perempuan.
Anak perempuan jauh lebih terdampak oleh media sosial secara spesifik. Loop perbandingan berbasis gambar, dinamika relasional, dan lingkungan sosial yang selalu aktif sangat beracun buat remaja perempuan. Aku baca bagian itu dan mikirinnya tentang dua anak perempuanku yang sekarang umur tujuh tahun. Dan aku ngerasain kewaspadaan khusus yang kamu rasain waktu sesuatu bergeser dari masalah sosial umum jadi masalahmu sendiri.
Mereka belum di media sosial. Tapi suatu saat akan masuk. Dan pertanyaan yang terus ada bersamaku sejak saat itu adalah: apa yang harus aku bangun dalam diri mereka sekarang, sebelum dunia itu datang?
Ada pepatah Mandarin yang tumbuh bersama generasi orang tuaku: 富养女,穷养儿.
Besarkan anak perempuan dengan kelimpahan. Besarkan anak laki-laki dengan kesulitan.
Kedengarannya aneh dalam bahasa Indonesia, dan gampang disalahartiin sebagai soal uang. Bukan itu. “Kelimpahan” yang dimaksud adalah berlimpahnya cinta, perhatian, budaya, dan kehalusan budi. Membangun dunia batin seorang perempuan supaya dia mengembangkan selera, rasa percaya diri, dan keanggunan. Sementara “kesulitan” untuk anak laki-laki itu soal membangun ketahanan dan semangat juang lewat perjuangan. Kebutuhan berbeda, pendekatan berbeda.
Soal anak laki-laki aku simpen untuk lain waktu. Ada keponakan laki-laki yang akan segera lahir dan artikel itu sudah terbentuk di kepalaku. Yang ini tentang anak perempuan.
Psikologi di balik 富养女 sebenarnya didukung dengan baik oleh penelitian modern, meski orang-orang yang menciptakan pepatah ini berabad-abad lalu nggak akan pakai bahasa seperti itu. Anak perempuan yang tumbuh dengan kelekatan yang aman dan hangat, yang ngerasa beneran dipilih dan dihargai di rumah, masuk masa remaja dengan jawaban yang sudah terbentuk atas pertanyaan yang akan ngikutin mereka ke mana-mana: apakah aku berharga?
Jawaban itu sudah diulang ke mereka dalam cara-cara kecil sehari-hari jauh sebelum ponsel pernah masuk ke dalam gambar. Jadi waktu media sosial datang dan mulai jalanin loop perbandingannya, mereka punya fondasi. Perih, tapi nggak mengguncang. Identitas mereka nggak bergantung pada metrik.
Anak perempuan tanpa fondasi itu masuk ke lingkungan yang sama dalam keadaan lapar. Dia belum dapat jawaban yang jelas dan konsisten atas pertanyaan yang sama itu. Jadi dia carinya, dalam jumlah followers, dalam respons anak laki-laki terhadapnya, dalam apakah dia masuk atau keluar dari grup chat yang tepat. Platformnya sama. Kerentanannya berbeda.
Aku mau spesifik soal apa arti kelimpahan di rumah kami, karena ini bukan soal gestur besar.
Ini soal datang ke pertunjukan tari Mandarin mereka bahkan waktu kerjaan lagi berat. Duduk bareng mereka sepulang sekolah dan beneran dengerin apa yang terjadi, bukan setengah dengerin sambil ngecek ponsel. Bikin mereka ngerasa bahwa ayahnya nganggep mereka menarik, bukan cuma nyayangi mereka dengan cara orang tua pada umumnya, tapi beneran nganggep mereka layak dapat waktu dan perhatiannya.
Istriku dan aku sering ngomongin ini. Banyak banget yang kita lihat pada anak perempuan yang lebih tua, yang nyari perhatian dari tempat yang salah, yang tolerir perlakuan buruk, yang lapar akan validasi dari luar, setidaknya sebagian bisa ditelusuri ke kesenjangan di awal kehidupan. Nggak selalu. Keluarga itu rumit dan setiap cerita beda. Tapi cukup sering sehingga kami nganggepnya serius.
Peran ayah penting dengan cara yang spesifik yang makin banyak aku pikirin seiring mereka tumbuh. Hubungan seorang anak perempuan dengan ayahnya pada dasarnya adalah pengalaman pertamanya tentang bagaimana seorang laki-laki memandangnya. Kalau pengalaman itu konsisten, kamu dihargai, kamu menarik, kamu layak dapat perhatian penuhku, ia membangun titik referensi.
Nanti, waktu dia ketemu seseorang yang ceroboh dengan perasaannya atau nggak konsisten dalam cara dia memperlakukannya, ada sesuatu dalam dirinya yang akan ngenali kesenjangan itu. Kesenjangan itu protektif. Dia punya tolok ukur untuk apa rasanya beneran dihargai oleh seorang laki-laki. Dia nggak perlu nebak.
Itu yang coba aku bangun. Bukan kesempurnaan. Aku sering salah. Tapi konsistensi. Hadir cukup sering sehingga pesannya tersampaikan.
Sebagian besar enrichment di Singapura dioptimalkan untuk performa akademis. Aku ngerti logikanya. Sistem ini menghargai nilai. Nilai buka pintu. Ini nggak salah.
Tapi aku juga mikirinnya seperti apa anak perempuanku di usia 15, 22, 30. Dan waktu aku mikirinnya, aku malah lebih sedikit khawatir apakah mereka bisa selesaiin persamaan x, dan lebih banyak khawatir apakah mereka tau cara bawa diri mereka di dalam sebuah ruangan, apakah mereka punya hubungan dengan tubuh dan suara mereka sendiri, apakah mereka punya sesuatu di dalam diri yang bisa jaga mereka tetap teguh waktu tekanan dari luar lagi nyoba bentuk ulang mereka.
Public speaking ngajarin mereka berpikir cepat dan narik perhatian tanpa minta maaf. Tari Mandarin kasih mereka disiplin fisik, akar budaya, dan kesadaran akan tubuh mereka yang nggak ada hubungannya dengan cara mereka keliatan di mata orang lain. Piano bangun kesabaran, ketepatan, dan kepuasan khusus dari bikin hal-hal susah jadi bener lewat usaha yang berkelanjutan.
Nggak ada satu pun dari ini yang muncul di rapor. Semuanya, aku percaya, muncul dalam cara mereka melangkah di dunia.
Kegiatan-kegiatan ini juga dimulai sejak muda, yang penting. Kepercayaan diri yang dibangun lewat bertahun-tahun latihan, tampil di atas panggung, ngomong di hadapan penonton, duduk sama karya musik yang susah sampai bisa, kepercayaan diri kayak gitu tinggal di dalam tubuh. Bukan pola pikir yang kamu adopsi. Ini sesuatu yang udah kamu lakuin, berulang kali, sampai jadi bagian dari cara kamu memahami dirimu sendiri.
Itu lebih susah dijangkau oleh algoritma.
Aku mau jelasin bahwa aku lagi mendokumentasiin pemikiranku sendiri di sini, bukan meresepkan pendekatan siapa pun. Keluarga hadir dalam berbagai bentuk. Setiap anak beda. Apa yang berhasil di rumah kami dengan anak perempuan kembar yang tumbuh di Singapura bukan cetak biru universal.
Tapi kalau kamu orang tua dari anak perempuan dan kamu udah ngerasain semacam apa yang aku rasain waktu baca Haidt, perasaan waspada yang sedikit nggak nyaman karena ngenali masalah yang menuju ke arah anak-anakmu yang spesifik, maka mungkin sebagian dari ini berguna.
Anak-anakku sudah tujuh tahun. Kita lagi ada di dalam jendela waktu itu sekarang.
Ponsel-ponsel itu akan datang pada akhirnya. Loop perbandingan, tekanan sosial, anak-anak laki-laki, seribu momen kecil di mana mereka harus mutusin apa nilai diri mereka. Semua itu akan datang.
Yang bisa dilakukan aku dan istriku adalah membangun sebelum itu tiba. Ngisi mereka cukup banyak sehingga waktu dunia mulai minta mereka untuk jadi lebih kecil, lebih diam, lebih mudah diatur, mereka sudah tau jawabannya.
Itu yang lagi kami coba lakuin. Kita lihat hasilnya nanti.